Ini bukan lagi tentang tesis

Ini bukan lagi tentang tesis, tapi tentang bagaimana memanajemen waktu. Saat aku merasakan bahwa waktu seperti memburu, hari terasa begitu cepat dan bulan sebentar saja berlalu, berarti itu sudah menandakan bahwa aku selama ini tidak bisa mengatur waktu, tidak bisa memilah yang namanya kesenangan sesaat dan kewajiban yang harus diselesaikan. Tiap hari itu sama 24 jam, tetapi keadaan sekarang seolah-olah jadi terasa lebih cepat. Adalah beberapa penyesalan, kenapa ini, kenapa itu, ya memang aku saja yang membuat semuanya jadi ribet. Perasaan ini mirip seperti ketika aku merasa sebagai kebodohan kalau aku menuliskan tulisan semacam ini di blog. Tapi yakin ini tidak sama dengan putus asa, aku tidak putus asa, aku masih mau membaca, aku masih selalu berusaha memperbaiki diri. Ya aku harus berusaha keras untuk mengejar semua ketertinggalan, walau merasa sudah sangat jauh tertinggal.

Start from “0”

Tahun 2012 akhirnya berlalu begitu saja tanpa aku tahu sudah berapa banyak waktu terbuang tidak pada tempatnya. Entah aku terlalu sibuk, sehingga tidak bisa mengatur prioritas atau memang aku yang terlalu malas. Ah, tidak baik untuk selalu menyalahkan diri sendiri dan menyalahkan keadaan. Yang sudah berlalu tidak mungkin bisa kembali. Lupakan semua kesedihan, kegelisahan, kesalahan dan kebodohan dalam mengambil keputusan sehingga sudah begitu banyak keadaan yang berjalan tidak sesuai, yang menimbulkan dampak pada jalannya kehidupan nantinya. Biarlah semua masalah itu membuatku lebih dewasa, walau aku merasa aku tidak sedewasa umurku sebagaimana seharusnya. Ada banyak hal yang tidak bisa aku terima, tapi semua mengharap aku mengerti mereka. Huh lagi-lagi tidak ada keceriaan :'(. Aku bosan seperti itu. Masih ada begitu banyak penyesalan, karena tak bisa menimbang baik buruknya di masa depan. Tapi semua harus dihadapi, untuk apa selalu memelihara rasa marah….

Badai pasti berlalu. Biarlah hanya aku dan Tuhan yang tahu seperti apa rasanya. Bukan saatnya lagi bersikap kekanak-kanakan. Masih banyak teman bicara, masih banyak harapan, semua akan baik-baik saja, semua masalah pasti ada solusi. Sabar dan bangkit, hidupkan energi positif dengan berfikir positif. Masih banyak yang harus disyukuri atas semua yang Allah berikan dalam hidup ini.

Sudah saatnya menaati prioritas. Kapan lagi mau memulai, kalau tidak saat ini, detik ini. Sudah saatnya harus keras pada diri sendiri, memang harus ada target. Aku harus lulus tahun ini.

Hari #37-58 Belum Juga

Misi untuk segera sidang proposal ini bukannya berhenti, tapi malah belum dimulai. Pencarian idenya masih terus berlanjut bersamaan dengan berbagai tekanan pekerjaan. Semuanya seperti hantu yang menghantui menit-menit dan detik-detik kehidupan. Hanya sabar dan tabah menghadapinya. Entah itu termasuk tuntutan atau bukan, aku hanya ingin semua masalah yang ada saat ini segera terselesaikan.

Hari #27-36 Move On

Setelah sekian lama tinggal di kos ini rasanya sulit bagi saya untuk memulai kebiasaan di tempat baru. Hari ini saya memutuskan untuk membayar dp kos baru, yang bisa segera ditempati mulai tanggal 1 November ini. Rasanya berkecamuk tidak jelas antara senang dan sedih. Kesederhanaan dikos yang sudah sekian tahun saya tinggali, mulai saya masih jadi mahasiswa yang mengerjakan skripsi sampai sekarang saya sudah harus mengerjakan tesis, saya masih seperti tidak begitu rela untuk berpindah. Masih ada perasaan sungkan untuk mengatakan kepada ibu (*panggilan untuk ibu kos) bahwa saya akan segera pindah kos. Seperti apapun keadaan di kos lama, saya sudah terbiasa. Keramahan ibu kos dan keluarganya rasanya sulit untuk dicari bandingannya. Kami sudah seperti satu keluarga. Entahlah apakah dikos baru nanti saya dapat merasakan demikian. Tapi saya harus cari suasana baru, sudah saatnya saya move-on. Memang biaya sewa dikos baru bisa dibilang 2xlipat lebih harganya dari kos lama, tapi itu sebandinglah dengan fasilitas yang diberikan. Dan saya harus rela membayar lebih untuk itu dan merelakan untuk meninggalkan kos lama, karena seandainya saya tidak berpindahpun, suatu saat saya tetap harus meninggalkan tempat itu. Mungkin di tempat yang baru, saya bisa memulai kehidupan saya dengan lebih baik. Semoga tesis saya bisa lancar. Aamiin 🙂

Hari #20-26 Kembali ke realita

Beberapa hari ini fokus saya terhadap sesuatu betul-betul buruk. Ya semuanya karena saya merasa sangat kelelahan untuk sesuatu yang tidak saya suka, tapi harus saya kerjakan karena kewajiban. Saya jadi mudah marah, tapi juga sebentar saja hilang. Rasanya semua waktu habis terkuras untuk memikirkan gangguan-gangguan yang datang. Tapi saya jadi lebih berani, seperti orang yang dalam keadaan terancam, sehingga ada daya lebih. Sebenarnya masih banyak waktu untuk mengerjakan project saya yang masih tertunda *tesis, tapi pikiran dan fokus kacau. Saya selalu kepikiran dengan banyaknya masalah yang terlalu pelik untuk diselesaikan. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya, tapi itu terasa terlalu lama kalau sampai harus menunggu selesai. Tapi realita itu tak bisa menunggu lagi untuk segera dikerjakan.

Hari #13-19 Kosong lagi dan lagi

Entah ini sudah hari ke berapa dan saya masih belum juga ada perkembangan apa-apa. Agustus, September, Oktober lewat sudah. Tapi tesis masih terasa jauh. Bahkan bayangan ketakutan malah semakin menjadi. Dua hari yang lalu, menyaksikan teman seangkatan melakukan seminar proposal dan ada yang lulus dengan skor cemerlang, tapi ada juga beberapa yang belum lulus dan harus sidang lagi, terkait dengan masalah konsep yang diperdebatkan oleh dosen penguji. Terbayang apakah saya bisa melakukan seminar nantinya, sedangkan saya tidak punya keahlian presentasi apa-apa. Konsep dan ilmu juga saya tidak menguasai, bisa dibilang sangat dangkal. Harusnya sih masih bisa diusahakan, asalkan ada kemauan. Semua memang perlu proses dan kerja keras. Semoga bisa secepatnya terlaksana. Sepertinya ide yang terakhir di kepala saya, segera direalisasikan saja. Mau menunggu apa lagi.